Gaji Papa Berapa???


Seperti biasa Seftianto
Selain sebagai Trader,Dia adalah seorang Kepala Cabang di sebuah amil zakat terkemuka di Yogyakarta, serta memimiliki beberapa usaha mie ayam bakso tentu membuat dia sering pulang pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Fatima, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

”Kok, belum tidur?” sapa bapak dua anak ini sambil mencium anaknya. Biasanya Fatima memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Fatima menjawab,
”Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa?”

”Lho tumben, kok nanya gaji Papa? Mau minta uang lagi, ya?”

”Ah, enggak. Pengen tahu aja,” ucap Fatima singkat.

”Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja dibidang Comodity dan Forex sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,- profit alhamdulillah consisten. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo?” Fatima berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Fatima berlari mengikutinya.

”Kalo satu hari Papa dibayar Rp 400.000,-untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp 40.000,- dong\\\",” katanya. ”Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur,” perintah Andrew. Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Sarah kembali bertanya, ”Papa, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- enggak?”

”Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah”.

Dalam batin Papa Fatima ini sangat bersyukur telah memiliki penghasilan yang sangat besar, kemudian

“Tapi Papa...”

Kesabaran Seftianto pun habis.

”Papa bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Fatima. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Ayah fatima ini nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Fatima di kamar tidurnya.

Anak kesayangannya itu belum tidur.

Fatima didapati sedang menangis terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya. Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Papa ini dengan pelan berkata, “Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp 5.000,-, lebih dari itu pun Papa kasih,” jawab sang papa.

\"Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini”.

“lya, iya, tapi buat apa?” tanya Papa Fatima lembut.

”Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp.15.000,-. Tapi.. karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp 5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa,” kata Fatima polos.

Papanya pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk ”membeli” kebahagiaan anaknya.

Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah dunianya.